Kami bukan pembina candi
Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yang mesti musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas kuburan kami lebih sempurna
***
SEBAIT sajak karya penyair Henriette Roland Host seolah menjadi 'mantra'bagi para laskar rakyat, dulu. Sajak inilah yang tersimpan salam saku jenazah Subianto, penjuang muda , adik begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo, yang gugur bersama 29 laskar muda lainnya pada peristiwa 15 Januari 1946, di Serpong, Tangerang. Inilah pertempuran penuh dendam dan harga diri dengan tentara Jepang yang belum sudi meninggalkan Indonesia, meskipun kami telah merdeka.
Subiyanto dan anak-anak muda yang mengagumkan itu, belumlah masuk fase angkatan yang mesti musnah dan digantikan " angkatan baru". Tetapi, para pejuang muda itu paham kematian bukanlah sesuatu yang mahal untuk sebuah martabat bangsa bernama kemerdekaan. Para syuhada memang kerap merasa "lebih sempurna" dalam makam yang tenang, mungkin kini hanya menjadi cerita para tetua, atau olok-olok belaka.
Martabat bangsa ( human dignity) dan keadilan sosial ( social justice) itulah petuah para empu kearifan (filsuf) yang menjadi api dan kemudian membakar rakyat di banyak negeri untuk mengusir penjajah. Salah satu empu kearifan itu adalah Andre Malraux, filsuf Prancis yang mempesona banyak intelektual Indonesia, salah satunya Sumitro Djojohadikusumo. Pak cum, demikian Sumitro akrab dipanggil, menceritakan ini pada kami dalam wawancara untuk sebuah buku beberapa tahun sebeum ia wafat. ( Selengkapnya baca buku Jejak perlawanan begawan Pejuang Sumitro Djojohadikusumo,2010). Pikiran Malraux yang menyihir para intelektual dan dikristalkan para nasionalis menjadi " provokasi" yang penuh gelora bagi para pejuang kita.
Pesona pada Malraux memang menjadi penuh karena ia tak semata berkhotbah tentang sesuatu yang mengambang. Ia melakukan sesuatu yang berjejak pada bumi yang tengah bergolak. Ia memimpin eskadron angkatan udara yang tangguh dalam perang Spanyol ( 1936 - 1939 ) dan pasukan bawah tanah melawan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Malraux memang menjadi sosok yang komplit. Serdadu yang berani dan filsuf yang disegani. ( Meski pada Albert Camus dan Sartre tentu punya pesonanya sendiri ).
Sungguh jelas, tak ada yang putus antara masa silam dan hari ini, kecuali berganti manusia dalam mengelola negara. Tetapi, soal penjuangan untuk menegakkan keadilan dan martabat manusia, harus terus menjadi prinsip utama negara. Sebuah kemerdekaan tanpa dua prinsip itu, ia akan menjadi omong kosong. Ia akan menjadi negeri yang rapuh.
Itulah Indonesia hari ini. karena keadilan sosial dan martabat manusia hanya menjadi "alat" dan bukan tekad. Ia seolah diperebotkan tetapi tak dilaksanakan. Ia menjadi prinsip yang teralineasi di hampir seluruh aspek pembangunan kita, sejak lama. Soekarno, Soeharto, dan pemerintahan sesudahnya, justru terlihat gagap dan kian tak paham kemana arah pengelolaan negara. Sebab, keterbukaan hanya membawa orang sibuk berkata-kata,tapi tak sampai pada realisasi yang hakiki.
***
SAYA kerap tak sanggup secara mental menyaksikan amuk masa dan konflik sosial bertubi-tubi. Ambilah amuk masa terakhir: amuk priok dan kerusuhan batam. Sungguh amat jelas di sana ada keadilan dan martabat manusia yang dipinggirkan.
Kerusuhan Koja, Priok, jelas ada arogansi negara. Betapa sebuah makam sosok yang dihormati sebagian masyarakat,Mbah Priok, justru hendak digusur untuk perluasan PT Pelabuhan Indonesia ( Pelindo ) II yang nota bene milik negara. Pelindo jadi tampak angkuh dan seolah bisa melakukan untuk menerapkan prinsip kapitalisme: memperoleh laba sebanyak-banyaknya, sayang dengan cara apa saja. Padahal, tugas negara tak semata mencari laba dengan mengorbankan hak-hak warganya. Tak ada keadilan di situ!. Sementara itu , kerusuhan di Batam yang melibatkan ribuan pekerja galangan kapal PT Drydocks World Graha, adalah bukti, lagi-lagi, buruknya kinerja negara. Ia ironi yang luar biasa, betapa para pekerja dihina dan dikalahkan justru di negeri sendiri.
Saya tak menyaksikan amuk masa. Tetapi, lihatlah PT Drydocks, firma dengan sekitar 10 ribu karyawan, tapi hampir 80% dari mereka adalah outsourching, dan hanya 20% pekerja tetap. Outsourching kini memang menjadi tren, karena ia murah dan positioning mereka memang lemah. Tak hanya itu, para pekerja asing yang umumnya dari India itu, tidak saja tak sepenuhnya punya ketrampilan khusus, tetapi mereka ada yang kerap menghina pekerja kita.
Adalah amanat konstitusi bahwa rekreutment pekerja asing hanyalah untuk pos-pos yang khusus, yang bangsa sendiri belum bisa melakukannya. Tetapi PT Drydocks melanggarnya sesuka-suka.Ada banyak tenaga kerja kita lebih terampil dari pekerja india. Tetapi tetap dibayar dengan upah rendah. Di sini ada pembiaran negara, yakni Kementerian Tenaga Kerja. Dan , kita tahu, institusi ini memang punya reputasi tak sedap dalam melindungi pekerja sendiri. Kekuatan uang kerap meruntuhkan apa pun kita punya aturan !
Dalam dua contoh itu saja, ada dua khianat negara terhadap warganya sendiri. Pertama, tak melindungi warganya mendapatkan keadilan. Kedua, menghina bangsa sendiri. Jika demikian realitanya, para pekerja India berani menghina pekerja kita justru di negerinya sendiri, sungguh tak heran jika di luar negeri para pekerja kita terus menjadi pecundang.
Negara mesti bertobat karena beberapa khianat terhadap raknyatnya. Jika tidak, jika keadilan dan martabat manusia tetap jadi omongan, negeri ini akan terus bergemuruh dalam berbagai ekspresi keresahan. Karena dua hal itu adalah hak dasar setiap manusia. Terlebih lagi manusia yang terhimpun dalam wadah bernama negara!***
Pada hari ini Rabu tanggal 21 April 2010 adalah hari kartini yang rutin diperingati setiap tahun sekali. Tetapi di daerah saya Way Abung, Tulang Bawang Barat peringatan hari kartini dari waktu ke waktu, bukannya semakin meriah tetapi sebaliknya. Mungkin ini disebabkan karena Tulang Bawang Barat adalah DOB ( Daerah Otonomi Baru ) dimana anggaran untuk itu belum ada. Bagi saya bukan meriah tidaknya peringatan hari kartini itu, tetapi esensi dari peringataannya itu sendiri. Mengingatkan kepada kita, terutama kaum hawa, sudahkah kita mencontoh apa yang diteladankan oleh Ibu kita Kartini ??? Hari ini adalah hari untuk melakukan refleksi diri bagi kaum hawa dalam perannya sebagai :
1. Ibu rumah tangga
2. Ibu dari anak-anaknya
3. Istri dari suami ( GARWO = Sigaraning Nyowo )
4. Abdi Negara ( bagi yang berprofesi PNS, tentunya )
5. dan peran-peran positif lain
Kenapa kaum hawa harus melakukan refleksi diri ? Mengingat jumlah penduduk perempuan di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya dari waktu kewaktu lebih besar/banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Dengan perbedaan jumlah tersebut, apa dampaknya terhadap tata kehidupan bermasyarakat,bangsa dan negara ? Selain faktor jumlah penduduk perempuan yang lebih besar, faktor lain adalah faktor globalisasi disemua bidang, terutama bidang ekonomi, budaya,dan lain-lain yang tidak dapat kita bendung pengaruhnya terhadap tata kehidupan masyarakat kita.
Salah satu dampak dari dua faktor tersebut adalah terhadap status/peran wanita itu sendiri. Wanita tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja, tetapi memiliki banyak peran seperti yang disebutkan di atas. Banyak wanita/ perempuan yang harus membantu suami mencari nafkah dalam berbagai profesi, karena tuntutan keadaan ekonomi bukan karena semata-mata emansipasi wanita. Di rumah seorang wanita/ibu harus menjadi guru bagi anak-anaknya. Diranjang seorang wanita/istri harus dapat memenuhi kebutuhan biologis suaminya dan dirinya juga tentunya.... itulah tugas berat seorang wanita zaman sekarang.
Sekarang bagaimanakah kiat bagi wanita agar dapat memposisikan diri pada posisi terbaik dengan multi perannya tersebut??? Jangan lupa tuntunan dasar yang paling mendasar yaitu AGAMA dan norma-norma positif lain yang masih berlaku dari Zaman ke Zaman.
Bagaimana dengan peran kaum Adam atau laki-lakinya ????
Rasanya kurang pas untuk dibahas, karana selain tidak sesuai momentnya, di Indonesia belum dan tak pernah ada peringatan HARI KARTONO/ peringatan hari BAPAK/BAPAK !!!
( Harian Lampung Post: Minggu 18 April 2010 )
KETIKA massa menyimpan dendam dan kebencian, ia sebuah alamat destruksi. Bisa jadi ada kematian yang keji. Sebab, dalam dendam yang bergelora sering berkobar spirit menghabisi. Ia menutup seluruh elemen persamaan. Tak ada ruang lagi untuk pertemuan berbagai emosi bahwa kita bersama. Semuanya tiba-tiba jadi berbeda:konfrontatif dan bahkan saling menghabisi.
Kali ini bernama amuk Priuk. Kali lain mungkin amuk apa saja. Priuk pernah amat berdarah pada tahun 1984 ketika tentara membantai ratusan warga. Untuk ke sekian kalinya amuk serupa itu terjadi. Dan, dalam momen yang penuh purba sangka itu, saya melihat rasa puas yang meluap ketika dua gerombolan massa yang bertikai mampu menangkap"buruannya" yang lemah dan tak berdaya. Tak hanya melumpuhkan, tetapi menghabisinya dengan ganas. Ia lupa tentang ihwal cerita bahwa nyawa manusia amatlah berharga. Tak ada terlintas dalam pikirannya bahwa membakar fasilitas publik adalah merugikan diri sendiri.
Begitulah amuk priuk. Ia magma yang muncrat daru perut gunung berapi. Ia nyala api yang berkobar-kobar dan siap membakar siapa saja. Tiga orang polisi Pemerintah DKI Jakarta dijemput ajal dalam laku anarkistis yang brutal sepanjang rabu ( 13 - 4 ) itu. Ada ratusan orang terluka, beberapa diantaranya kritis. Puluhan kendaraan dibakar, aktivitas ekonomi jadi merugi. Kenapa itu semua terjadi ?
Tak pada tempatnya mengutuk Satuan Polisi Pamong Praja ( SatpolPP) yang tengah berduka kehilangan tiga nyawa anggotanya. Bahkan satu diantara mereka kerap berziarah ke makam Mbah Priuk. Tak elok juga menyumpah serapahi massa yang beringas membunuh dan membakar puluhan truk SatpolPP. Satpol PP dan massa yang "bertempur"di jalanan adalah sama-sama korban. Korban dari kebijakan pengelola negara ( dalam hal ini Pemerintah DKI Jakarta ) yang buruk, yang tak paham bagaimana mengelola masyarakat yang plural ini.
Makam Mbah Priuk adalah simbol kultural dan simbol religiositas. Sebagian publik menganggap ia punya efek magis dan psikologis. Keyakinan inilah menciptakan emosi komunal. Emosi membangun persepsi tertentu. Emosi adalah realitas batin atau " dunia dalam" yang sering tak tertangkap mata kita. Siapa yang pandai membaca dan paham realitas batin inilah yang mampu membimbing masyarakatnya. Jusuf Kalla, ketika di pemerintahan, adalah sedikit pejabat yang mampu membaca realitas ini.
Memaknai dengan tepat macam-macam simbol di masyarakat mestinya menjadi nilai keutamaan yang harus dipelajari para pengelola negara. Sebuah simbol penting yang menjadi sejarah sebuah tempat ternama, Mbah Priuk, nama populer Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad,mestinya mendapat tempat istimewa.Juga makamnya.
Saya baru mendengar nama itu. Penyebar agama Islam dari abad 18 asal Palembang, Sumatera selatan, yang menjadi asal-usul lokus Tanjung Priuk pastilah bukan nama sembarangan. Sungguh aneh tokoh sepenting itu tak mendapat penghormatan sepantasnya dari Pemerintah Jakarta. Dimanapun hal-hal yang menyangkut asal-usul sebuah tempat, terlebih tempat ternama seperti Tanjung Priuk,legenda sekalipun, mestilah dimuliakan. Terlebih lagi ada jejak historisnya,makamnyapun ramai diziarahi.
KEKERASAN di era modern, kata Almarhum J.B. Mangunwijaya,sungguh akan membuat layu demokrasi. Dalam artikelnya Bila orang-orang Kita mengamuk, Mangun merujuk banyak contoh bentuk fasisme pribumi yang berulang. Sebab, katanya, bangsa yang berdiam di wilayah kepulauan ini belum pernah mengalami zaman pencerahan budi semacam Aufklaerung fase humanisme Renaisans Seperti di barat. Padahal inilah fase yang paling menentukan dalam proses modernisasi. Akibatnya,"...kita membangun negara dan masyarakat modern secara gegabah lewat jalan pintas alat-alat materi, tanpa memahami roh hakikat dan historisnya."
Serumit apapun, saya tetap menyimpan optimisme tentang negeri ini. Bukan karena Indonesia seperti ditulis geolog dan fisikawan Brasil, Prof.Arysio Santos ( Atlantis, 2010 ) ternyata tempat lahirnya peradaban dunia,melainkan bangsa ini selalu punya kemampuan untuk mengatasi persoalannya sendiri. Sayang, para elite justru kerap menjadi sumber destruksi,bukan inspirasi.
Setiap ada kekerasan komunal,kita selalu berharap ini yang terakhir. Seperti juga saya,sudah berkali-kali berpengharapan serupa itu. Sebab penyelesaiannya hanya realitas luar yang berjangka pendek. Adapun realitas batinnya kemudian diabaikan. Lihat saja, di Priuk,para pejabat sibuk berkunjung, berjanji,mengekspresikan rasa duka, tetapi biasanya, setelah itu, putus silaturahmi. Saya tak ingin mengatakan amuk priok sebagai pelajaran, tapi tragedi yang tak boleh terulang. Clifford Geer tz dalam Tafsir Kebudayaan dengan baik menjelaskan emosi yang merajut rangkaian makna dalam kebudayaan adalah kata kunci dalam memahami tindakan manusia. Makna dalam simbol-simbol kultural dan agama, jelas menyimpan emosi komunal yang dalam. Dengan begini kita - khususnya para elite- mesti paham dan mengerti kenapa masyarakat melakukan tindakan sosial tertentu.
Mbah Priuk adalah simbol kultural yang penting.Ia juga pancang historis sebuah bandar yang ramai. Pemerintah mestinya membangun tempat ini agar jadi elok dan bisa menjadi tujuan wisata agama dan budaya. oasis.Bahkan layak dibangun museum,MuseumTanjung Priuk. Tapi faktanya, sejak 12 tahun silam, situs itu justru berkali-kali hendak digusur.
Amuk Priuk adalah kegagalan para elite memaknai simbol-simbol itu. Amuk Priuk bukan problem yang jatuh dari langit. Ia amukulasi dari aneka persoalan yang panjang. Ekspresi dan realitas batin yang tertekan, terpinggirkan, dan tak berdaya; dan hari itu emosi ini berhimpun dalam energi yang penuh, menggelegak, dan apipun berkobar dalam sumbu yang pendek:amuk Priuk. ( Rubrik : REFLEKSI : DJADJAT SUDRAJAT )
