PENGARUH POWER SUPPLY UNIT ( PSU) TERHADAP KINERJA WINDOWS

Assalamua'alaikum wr.wb.
Selamt pagi sahabat sahabat bloger semuanya. Pada kesempatan pagi ini saya akan berbagi sedikit info tentang pengaruh PSU terhadap kinerja windows khususnya dalam mendeteksi flash disk, harddisk eksternal dan device device lainnya. Dalam minggu ini saya dipusingkan dengan adanya masalah yang berkaitan dengan port USB. Awalnya PSU saya terbakar dan biasanya yang menjadi biang keroknya adalah cicak. Tetapi setelah saya bongkar ternyata bukan cicak penyebabnya, tetapi karena faktor U (umur). langsung saya beli PSU merk S..m..da. Namun tidak ada, maklum jauh dari kota, susah mencari barang yang agak bagus. Apa boleh buat, pc harus segera diperbaiki karena dipakai anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Akhirnya saya beli PSU ala kadarnya merk abal-abal buatan cina. Setelah saya pasang , alhamdulillah PC normal kembali. Namun setelah saya mau instal Printer timbullah masalahnya yaitu windows can't recognice the device. Saya browsing di internet bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. Sudah saya coba semua, mulai dari uninstal driver usb, membersihkan debu-debu yang nempel, update driver sampai saking peningnya saya lakukan INUL ( Instal Ulang )Windowsnya. Namun hasilnya tetap Nihil. sampai saya berkesimpulan bahwa yang bermasalah adalah hardwarenya. Saya berencana mau mengganti mainboardnya, untung belum jadi. Terlints dalam pikiran saya, jangan-jangan PSU nya, karena masalah muncul setelah saya mengganti PSU, dan kebetulan daya punya PSU baru yang lumayan bagus merk Master Cooler. Akhirnya saya coba ganti PSU nya dengan yang baru. Setelah selesai saya ganti PC saya hidupkan kembali dan langsung Flashdik dan Hdd eksternal saya colokkan. Alhamdulillah kedetect semua. Belum yakin, flashdisk saya copot  kemudian saya colokkan lagi dan masih kedetect. Alhamdulillah.
Jadi kesimpulannya kwalitas PSU sangat berpengaruh terhadap Kinerja Windows khususnya dalam mendeteksi device yang kita sambungkan ke PC. Demikian sedikit pengalaman pribadi saya semoga bermanfaat. Wassalamua'alaikum wr.wb.

Akuntansi perusahaan dagang

AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
A. PENGERTIAN PERUSAHAAN DAGANG
     Perusahaan dagang yaitu perusahaan yang kegiatan pokoknya membeli barang dagang dan menjualnya  
     kembali tanpa melakukan perubahan bentuk pisik.
B. CIRI-CIRI PERUSAHAAN DAGANG
     Ciri-ciri perusahaan dagang dilihat dari segi :
      a. Usahanya.
          Usaha yang dilakuka perusahaan dagang adalah membeli barang dagang kemudian menjualnya
          kembali tanpa melakukan perubahan bentuk pisiknya.
     b.  Kegiatan akuntansinya
          Akuntansi perusahaan dagang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
          1) menggunakan akun persediaan barang dagang. Persediaan barang dagang terdiri dari persediaan 
              awal yaitu nilai barang dagang yang dimiliki perusahaan pada awal periode  dan Persediaan akhir
              yaitu nilai barang dagang yang dimiliki perusahaan  pada akhir periode akuntansi.
          2) Ada penghitungan Harga Pokok Penjualan ( HPP)
          3) Laporan Laba rugi dapat menggunakan bentuk single step(langsung) dan Multiple step(bertahap)
C. SISTIM PENCATATAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG
     Ada dua sistim pencatatan persediaan barang dagang yaitu:
     a. Sistim Pencatatan Berkala (Periodical system)
         Yaitu pencatatan persediaan barang dagang yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Untuk
          mengetahui nilai persediaan barang dagang dilakukan penghitungan secara pisik ( dilakukan  
          stockopname)
     b. Sistim pencatatan terus menerus/permanen ( Perpetual System)
         Yaitu pencatatan persediaan barang dagang dilakukan secara terus menerus setiap kali terjadi
          mutasi/perubahan persediaan barang dagang. Jadi nilai persediaan barang dagang dapat diketahui
          setiap saat tanpa harus melakukan penghitungan barang dagang secara pisik.
D. SISTIM PENGHITUNGAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG
     Ada 3 sistim penghitungan persediaan barang dagang yaitu:
     a. FIFO ( FIRST IN FIRST OUT) / MPKP ( MASUK PERTAMA KELUAR PERTAMA)
         Maksudnya adalah barang yang dibeli pertama kali akan dijual pertama kali  juga.
     b. LIFO ( LAST IN FIRST OUT )/MTKP ( MASUK TERAKHIR KELUAR PERTAMA)
         Maksudnya adalah barang yang terakhir dibeli akan dijual terlebih dulu.
     c. RATA-RATA ( AVERAGE)
         Yaitu sistim penghitungan persediaan barang dagang dengan cara mencari harga rata-ratanya terlebih
         dulu.
    CONTOH

FIFO  PERIODIK/BERKALA
Diketahui PT MLM memiliki transaksi di bawah ini :
1 Januari      Persediaan   10 unit   Rp. 20.000,-
4 Januari      Penjualan      7  unit  
10 Januari    Pembelian     8  unit   Rp. 21.000,-
22 Januari    Penjualan      4  unit
28 Januari    Penjualan      2  Unit
30 Januari    Pembelian    10 Unit   Rp. 22.000,-
Diminta : Hitung Nilai persediaan akhir barang tersebut ?
Jumlah persediaan akhir = Persediaan + pembelian penjualan
     = 10 + 18 – 13  =  15 unit
Nilai persediaan akhir  =        10unit@Rp.22.000,=Rp.220.000,-                                                            
     5 unit @ Rp.21.000,= Rp. 105.000,-  +
Nilai persediaan akhir  ……………………………………Rp. 325.000,-
 LIFOPERIODIK/BERKALA

Diketahui PT MLM memiliki transaksi di bawah ini :
1 Januari      Persediaan   10 unit   Rp. 20.000,-
4 Januari      Penjualan      7  unit  
10 Januari    Pembelian     8  unit   Rp. 21.000,-
22 Januari    Penjualan      4  unit
28 Januari    Penjualan      2  Unit
30 Januari    Pembelian    10 Unit   Rp. 22.000,-
Diminta : Hitung Nilai persediaan akhir barang tersebut ?
Jumlah persediaan akhir = Persediaan + pembelian penjualan = 10 + 18 – 13  =  15 unit

Nilai persediaan akhir  =
   10unit@Rp.20.000,  = Rp.200.000              
  5 unit @ Rp.21.000, = Rp. 105.000,-  +
Nilai persediaan akhir ………………………………………          Rp. 305.000,-
     RATA-RATA PERIODIK/BERKALA
 
1 Januari      Persediaan   10 unit     Rp. 20.000,-  = Rp. 200.000,-
4 Januari      Penjualan        7  unit  
10 Januari    Pembelian     8  unit     Rp. 21.000,-  = Rp. 168.000,-
22 Januari    Penjualan        4  unit
28 Januari    Penjualan        2  Unit
30 Januari    Pembelian    10 Unit     Rp. 22.000,- = Rp. 220.000,-
                                          28 Unit                            Rp. 588.000,-
Diminta : Hitung Nilai persediaan akhir barang tersebut ?
Jumlah persediaan akhir = Persediaan + pembelian – 
 penjualan = 10 + 18 – 13  =  15 unit
Harga Rata-rata = [(10X 20.000) +(8X 21.000)
 +(10X 22.000) ]: ( 10 + 8 + 10 )
                = Rp.588.000,-  : 28 
                = Rp.21.000,- 
 
Nilai persediaan akhir  =    15 X Rp.21.000,-
         Rp. 315.000,-  

TUGAS:
Kerjakan tugas berikut ini dibuku tugas secara individu dan
dikumpulkan ! 

1. Jelaskan pengertian perusahaan dagang ?
2. Apa perbedaan perusahaan dagang dengan perusahaan jasa?
3. Apakah ciri-ciri perusahaan dagang?
4. Apakah yang dimaksud dengan sistim pencatatan periodik ? beri contoh perusahaan dagang yang cocok melakukan pencatatan dengan sistim periodik !
5. Apakah yang dimaksud dengan sistim pencatatan terus menerus /permanen? beri contoh perusahaan dagang yang cocok melakukan pencatatan dengan sistim terus menerus !


Berikut ini data-data persediaan barang  dagang di Toko MURNI pada bulan Juni 2010:
Tanggal
uraian
jumlah
Harga satuan
Juni
1
Persediaan
20
Rp. 25.000,00
3
Penjualan
5

6
Pembelian
40
“     30.000,00
19
Penjualan
25

25
Pembelian
15
“     28.000,00
30
Pembelian
5
“     35.000,00

Ditanyakan: Nilai persediaan akhir barang dagang  dengan sistim Periodik , metode:
a.       FIFO
b.      LIFO
c.       RATA-RATA

Masih Perlukah Sistem Ujian Nasional Dipertahankan?

 

Pemerintah telah menetapkan untuk tetap melaksanakan Ujian Nasional (UN) bagi satuan pendidikan dasar dan menengah pada tahun pelajaran 2011/2012 ini. Bahkan Kementerian Nasional telah menetapkan sistem penyelenggaraan UN sama dengan tahun lalu, termasuk pembobotan nilai kelulusannya. Perubahan akan dilakukan hanya pada upaya untuk meniadakan atau meminimalisir kecurangan dalam manajemen penyelenggarannya, seperti yang terjadi pada  penyelanggaraan UN tahun pelajaran 2010/2011.
Kebijakan pemerintah ini, sebagai mana tahun-tahun sebelumnya, telah melahirkan pro kontra dengan berbagai sudut pandang. Pihak yang pro, pada dasarnya memandang UN sebagai alat untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Sementara yang kontra, pada intinya menganggap UN merupakan kebijakan yang kredibilitasnya masih diragukan dan mempersoalkan fungsinya sebagai penentu kelulusan bagi peserta didik.
Ketidaksamaan pandangan dalam melihat penyelenggaraan UN sebagai alat ukur (penilaian) pendidikan tersebut, menyebabkan kita terlibat terus untuk mempersoalkan dan mengkajinya lebih jauh dan mendalam lagi. Kajian tersebut akan akan menjawab permasalahan masih pentingkah sistem penyelenggaraan UN dipertahankan ?
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia telah di atur dalam Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, termasuk mengatur tentang evaluasi untuk peningkatan mutu pendidikan. Evaluasi tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan pada Bab X tentang Standar Penilaian Pendidikan. Standar penilaian tersebut kemudian diperjelas lagi dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Dalam PP dan Permendiknas itu, ditegaskan bahwa penilaian hasil belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah. UN merupakan bentuk penilaian yang dilakukan oleh pemerintah. Bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Penyelenggarannya dilakukan secara obyektif, berkeadilan, dan akuntabel. Penyelenggaraan UN dilaksanakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk melakukan pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, serta pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Kebijakan UN yang selalu menjadi fokus pembicaraan yang melahirkan pro kontra adalah terletak pada penyelenggaraannya yang belum sesuai dengan apa yang diamatkan oleh peraturan tertulis tersebut, yang harus diselenggarakan secara obyektif, berkeadilan, dan akuntabel. Selain itu, isi PP dan Permendiknas yang selalu mendapat sorotan tajam dari masyarakat adalah adanya ketentuan yang mengatur bahwa hasil UN merupakan penentu kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan.
Obyektifitas penyelenggaraan UN diragukan mengingat masih terjadinya kasus kebocoran dokumen soal UN. Menjelang pelaksanaan UN, banyak bertiup isu bahwa ada soal UN yang telah beredar. Kunci jawaban juga banyak beredar melalui pesan singkat (SMS). Bahkan tragisnya lagi, ada kasus pemberian kunci jawaban kepada peserta didik atas inisiatif guru atau sekolahnya. Di beberapa daerah kasus semacam itu telah terbukti secara hukum. Sedangkan yang tidak terungkap, disadari atau tidak, masih lebih banyak lagi. Mengingat akan hal itu, maka hasil UN tidak dapat sepenuhnya dapat dikatakan sebagai hasil perbuatan yang jujur. Ketidakjujuran tersebut timbul dari adanya rasa takut dan tekanan. Pengelola sekolah dan guru, takut kepada masyarakat kalau banyak siswa yang tidak lulus, serta takut akibat yang akan diterima dari pemerintah daerah kalau hasil UN jelek dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pemerintah daerah secara langsung, maupun tidak langsung telah memberikan tekanan agar penyelenggaraan UN sesuai dengan garis kebijakannya. Tekanan (intervensi) politis ini menyebabkan pelaksanaan UN di satuan pendidikan tidak sesuai dengan rambu-rambu (pedoman) yang telah ditetapkan. Mencari keselamatan diri dan kelompok menjadi pilihan, dengan cara yang tidak sesuai aturan baku.
Kenyataan seperti diatas menunjukkan bahwa penyelenggaraan UN belum mencerminkan prinsip keadilan. Ketidakadilan tersebut juga terlihat dari adanya persamaan soal UN untuk semua sekolah. Hal ini menjadi sebuah ironi, mengingat satuan-satuan pendidikan di setiap wailayah, kota sampai desa tidak memiliki sarana fisik yang sama, dan kualitas tenaga pendidikan yang berbeda. Di kota-kota pada umumnya satuan pendidikan memiliki fasilitas pendukung yang lengkap dan tenaga guru dengan kualitas yang baik melimpah. Sementara satuan pendidikan di pelosok-pelosok kondisi fasilitas dan tenaga pendidiknya kekurangan. Bahkan ada sekolah yang kondisinya teramat parah dan memperihatinkan, sehingga mati enggan hidup pun tak mau. Fakta ini apabila disamakan dalam pelaksanaan UN, maka keadilan itu tidak pernah ada.
Dengan munculnya kasus-kasus kebocoran dokumen UN, serta tidak meratanya falisitas dan tenaga pendidik untuk semua satuan pendidikan, maka akuntabelitas penyelenggaraan UN patut dipertanyakan. Alangkah tidak ironisnya nilai UN peserta didik yang ada di kota lebih rendah dengan yang ada di pelosok pedesaan. Alangkah lucunya satuan pendidikan yang proses pembelajarannya Senin Kamis (tidak efektif) mendapatkan peringkat sepuluh besar hasil UN, dari pada sekolah yang proses pembelajarannya tidak diragukan. Hasil UN menjadi kurang dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya, apabila kita melihat kenyataan bahwa lulusan dari satuan pendidikan yang memperoleh nilai UN rata-rata tinggi dan mampu meluluskan 100 % tidak bisa diterima di sekolah-sekolah favorit atau tidak lulus seleksi masuk perguruan tinggi. Keraguan ini bisa juga timbul dari cara pembobotan nilai kelulusan peserta didik, yang ditetapkan dengan rasio 60 % UN dan 40 % Ujian Sekolah (US). Ini akan mendorong terjadinya manipulasi nilai peserta didik, sehingga yang bodoh pun bisa lulus. Dengan cara ini, satuan pendidikan bisa jadi akan menaikkan kreteria ketuntasan minimal (KKM) secara serampangan, tanpa didasarkan pada kenyataan yang ada di satuan pendidikan.
Kredibilitas penyelenggaraan UN menjadi diragukan, bisa dikaji lagi dari kebijakan yang memposisikan hasil UN sebagai salah satu penentu kelulusan. Ini menjadi momok yang menakutkan bagi peserta didik, sekolah dan pemerintah daerah. Kekhawatiran untuk tidak lulus, mendorong mereka untuk mencari cara agar bisa lulus, walaupun cara tersebut bertentangan dengan aturan yang berlaku. Seharusnya hasil UN tidak ikut menentukan kelulusan peserta didik, tetapi dijadikan sebagai alat untuk melihat, memetakan dan meningkatkan mutu pendidikan. Mengingat pula bahwa yang paling mengetahui keadaan siswa, baik prestasi maupun kepribadiannya adalah guru-guru yang ada di setiap satuan pendidikan. Seharusnya guru dan satuan pendidikan diberikan hak penuh untuk menentukan kelulusan sesuai dengan fungsi dan tanggungjawabnya.
Berangkat dari kenyataan di atas, maka sistem penyelenggaraan UN yang sekarang perlu dievaluasi secara menyeluruh, dan bila perlu diganti dengan sistem yang lain, misalnya kembali menggunakan sistem Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) di era tahun 1980-an dan 1990-an.  Kita belum terlambat untuk merubah kebijakan yang telah ditetapkan, mengingat penyelenggaraan UN masih cukup panjang.  Perlu kita ingat kembali, bahwa pada saat pemberlakuan sistem EBTANAS, tidak pernah seheboh seperti sistem penyelenggaraan UN dewasa ini. Sistem lama ini tidak mengebiri hak-hak guru dan sekolah, mereka diberikan hak yang besar untuk menyelenggarakannya, hak penuh dalam mengoreksi hasilnya, dan memiliki hak penuh pula dalam menentukan kelulusan peserta didik, berdasarkan pedoman yang telah ditetapkan. Sedangkan hasil EBTANAS yang murni tidak dijadikan penentu kelulusan, tetapi dijadikan sebagai syarat untuk seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi lebih obyektif, berkeadilaan dan akuntabel.
(Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/27/masih-perlukah-sistem-ujian-nasional-dipertahankan/)

Manfaat buah Kiwi

     Dengan bentuknya yang lonjong dengan warna coklat dan tekstur berbulu membuat buah kiwi kalah menarik dengan buah lain seperti apel maupun jeruk.Tapi jangan remehkan soal kandungan buah ini. Beragam manfaat buah berasa asam manis ini antara lain sebagai sumber vitamin, mineral hingga sumber energi.

     Peneliti dari Health Science Zespri Internasional dari New Zealand, Lynley Drummond mengatakan buah kiwi sarat gizi. Bermanfaat sebagai sumber vitamin, mineral dan antioksidan yang tinggi.
“Buah kiwi juga sarat phytonutrients yang baik bagi kesehatan, karena akan menghasilkan polyphenols sebagai antioksidan bagi tubuh, enzim untuk pencernaan dan karotenoids yang bermanfaat sebagai antioksidan dan kesehatan mata,” tuturnya.
Studi yang dilakukan membuktikan, buah kiwi menyediakan gizi paling banyak dengan kalori paling sedikit jika dibandingkan dengan jeruk, pisang dan apel.
“Membuat kiwi merupakan salah satu pilihan untuk orang-orang yang sedang berdiet,” terangnya.
     Hal senada diungkap Dokter Spesialis Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Inge Permadhi MS, SpGK. Dia mengatakan, buah-buahan termasuk kiwi merupakan sumber air dan elektrolit, energi, vitamin dan antioksidan.
“Sekitar 70% tubuh manusia mengandung air. Jika tiba-tiba diare, maka bagian tubuh yang berisiko adalah gagal ginjal. Terutama pada orang lanjut usia, juga saat mengalami muntah,” tuturnya.
Buah dapat juga digunakan sebagai sumber energi, karena mengandung kalori yang dapat diubah menjadi energi. Rata-rata kalori yang dapat diperoleh dari satu buah yaitu sekitar 80-90 kalori.
Sebagai sumber vitamin dan mineral, asupan buah menjadi sangat penting. Guna memperlancar metabolisme tubuh saat mencerna karbohidrat dan lemak yang akan digunakan sebagai energi.
“Kandungan antioksidan dalam buah juga dapat membantu imunitas tubuh mengatasi radikal bebas berlebih dengan memberikan donor elektron. Sebenarnya, radikal bebas dapat dianggap sebagai amunisi untuk melumpuhkan penyakit yang disebabkan virus atau bakteri. Namun jika terlalu banyak bisa berbahaya,” jelas Inge.
Radikal bebas yang tidak seimbang juga dapat mengakibatkan penyakit degenaratif atau penuaan dini. Seringkali disebut dengan efek stres oksidatif.
Untuk kecukupan porsi serat per hari, ujar Inge, diperlukan 3 porsi sayur dan 5 porsi buah per hari yaitu sekitar 25-30 gram.
“Satu mangkuk kecil sayur atau satu buah diperkirakan mengandung serat 4 gram. Jika satu hari Anda malas makan sayur, maka bisa saja dikombinasi dengan makan buah. Misalnya, satu buah mengandung serat 4 gram. Maka Anda harus makan sekitar 8 buah untuk memenuhi kebutuhan serat 30 gram,” papar wanita yang tampak awet muda itu.
Persiapan Kehamilan
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh produsen kiwi Zespri juga mengungkap, manfaat kiwi sebagai sumber asam folat yang baik. Sebagaimana diketahui, asam folat sangat diperlukan untuk wanita yang hamil atau tengah mempersiapkan kehamilan, untuk mencegah cacat lahir pada otak atau syarat tulang belakang (Neural Tube Defect/NTD).
Mengingat masih banyak calon ibu yang tidak memperhatikan asupan asam folat pada masa-masa awal kehamilannya. Pasalnya, mereka tidak menyadari minggu-minggu pertama kehamilan.
Lynley juga menjelaskan sebuah penelitian yang mengkaji manfaat kiwi terhadap sistem pernafasan pada orang dewasa. Hasilnya, saat mengonsumi buah kiwi, subjek mengalami gejala yang lebih ringan, lebih cepat sembuh dan meningkatknya tingkat antioksidan secara signifikan.
“Penelitian yang sama tengah dilakukan tahun ini pada anak-anak,” tambahnya.
Wanita asal New Zealand itu juga menuturkan hasil penelitian yang dapat membantu mengatasi kekurangan zat besi yang bisa berdampak pada terganggunya produktivitas, perkembangan dan fungsi kognitif, risiko kehamilan dan sistem kekebalan tubuh. Mengingat golongan yang paling rentan adalah wanita usia muda-pertengahan dan anak-anak.
“Mengonsumsi buah kiwi bersama dengan sereal yang sudah difortifikasi dengan zat besi tambahan, terbukti akan meningkatkan daya serap tubuh terhadap zat besi,” kata Lynley.
buah kiwi dapat dimakan bersama sereal yang sudah difortifikasi dengan zat besi tambahan, dan terbukti akan meningkatkan daya serap tubuh terhadap zat besi. Segaralah mengkonsumsi buah eksotik asal new zealand ini.

Mencari Indonesia ( Disunting dari Harian Lampung Post tanggal 6 Juni 2010 Rubrik REFLEKSI Oleh DJADJAT SUDRADJAT)

DALAM sebuah diskusi ringan seorang tokoh  bertanya, " Adakah sesuatu yang membanggakan dari Indonesia?" Beberapa orang ( ada beberapa politisi senayan, pengacara beken, rektor sebuah universitas, dan beberapa wartawan senior ) yang mengelilingi sang tokoh itu, tak satupun menjawabnya. Ia mengulang lagi pertanyaannya, " Adakah  yang membanggakan dari negeri besar ini?" Meski agak malas, saya menjawabnya. " Rakyat itulah  yang membanggakan.
     Tokoh itu diam sebentar dan minta penjelasan jawaban saya. " Bagaimana tidak hebat, dengan pengangguran begitu tinggi, dengan sekitar 35 juta penduduk miskin, dengan pelayanan birokrasi amat buruk, tapi mereka masih patuh pada negara. Keindonesiaan mereka tak luntur. Mereka tetap membayar pajak. Kesabaran Rakyat Indonesia itu luar biasa. Coba kalau pengangguran begitu tinggi terjadi di Eropa, pasti negeri itu guncang!.
    Tokoh itu tak terlalu puas dengan jawaban saya. Tapi, juga tak menolaknya. Saya"menembak"lagi. " Di negara yang masih paternalistik ini tugas pemimpin sesungguhnya tak terlalu berat. Cukup memberi contoh secara konsisten dan sungguh-sungguh, tanpa banyak cingcong, rakyat akan mendukung dan mengikutinya."
     Sang tokoh masih tak puas, Ia geram dengan Indonesia yang bukan menuju proses"menjadi" melainkan "memudar". Dan, soal negeri yang meluruh, memang menjadi omongan publik hampir setiap hari. Simposium Nasional Restorasi Indonesia, yangdigelar di Jakarta selama dua hari ( 1-2 Juni), hanyalah peneguhan dari keprihatinan yang telah membuncah. Para pembicara,orang-orang ternama itu, "menggugat" Indonesia yang telah bersimpang jalan. Indonesia yang telah kehilangan sukma. Mereka berupaya"menemukan kembali"Indonesia yang hilang itu.
     Undang-undang Dasar 1945 yang mulia, yang mengamanatkan ekonomi kerakyatan dan negara mengurus orang-orang miskin dan anak terlantar, jadi omong kosong. Negara sangat tidak berpihak pada orang-orang kecil. Negara sangat berpihak pada pemilik modal dan orang-orang kaya. Negara sungguh amat Zolim kepada orang-orang kecil. Orang-orang miskin seperti dibiarkan termarjinalkan. Ada upaya dengan  sengaja dari Negara untuk melupakan keagungan  Pancasila yang digali  dari kearifan nusantara. Sebab, nilai-nilai ini tak menghendaki para pemilik modal dan penguasa menumpuk  harta sebanyak-banyaknya, tanpa berbagi kepada yang miskin. Periksalah pundi-pundi para politisi kita. Ada yang baru beberapa tahun menjadi pejabat negara,kekayaannya menggelembung jadi berpuluh-puluh milyar rupiah.
     Keagungan Indonesia memang seperti tengah "dipreteli" satu per satu. Justru oleh para penyelenggara negara, yang notabene disumpah-juga dibayar negara-untuk menjaga Indonesia. Indonesia yang sakit ini tak kunjung ada  upaya untuk menyembuhkannya.
     MARI kita lihat lagi "pusaka"kita yang sengaja dicampakkan. Salah satunya Trisakti,tiga butir ajaran bung Karno, yang mestinya jadi pegangan hari ini, yakni berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Politik kita kian keruh dan banal. Ekonomi kita sangat tergantung pada asing.
    Kepribadiankita juga nyaris compang-camping. Kita menjadi bangsa yang mudah meniru. Kita bangsa yang sudah lama mengalami  senomania dan menderita kompleks inverioritas.
     Kegandrungan pada asing sudah sangat keterlaluan karena tak paham keunggulan diri sendiri. Tak ada kodifikasi sejarah pemikiran dan benda budaya dari seluruh nusantara. Museum-museum kita umumnya miskin koleksi dan merana.
     Kita baru teriak setelah bangsa lain berupaya mengambilnya. Kita hanya teriak tetapi tak memeliharanya. Indonesia dengan berkah keragaman kultur dan hayati, dibiarkan tak terurus. Ia belum dimaksimalkan sebagai sumber penciptaan ekonomi kreatif yang menjadi tren global. Kekayaan batik baru-baru ini saja menjadi kesadaran barsama ( dipakai setiap jumat di berbagai instansi) setelah UNESCO menjadikannya warisan dunia. Dalam soal busana, Malaysia malah lebih "berkepribadian" daripada kita, yang terkesan"suka-suka".
     Benarkah Indonesia telah'hilang'? Banyak orang bilang Indonesia  tengah dihancurkan, dipisahkan dari roh dan kepribadian yang  sesungguhnya. Indonesia hari ini seperti Indonesia  yang berbeda, yang bergerak tanpa arah, yang tercerabut dari akarnya.
     "Para pengambil keputusanpun terus membuat kebijakan publik tanpa mempertimbangkan karakteristik sosial-ekologis-geografis Nusantara, sehingga terjadi krisis sosial-ekologis. Kaum intelektual terus mengimpor mentah-mentah pengetahuan dari utara untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, tanpa menyesuaikannya dengan karakteristik Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan ," kata Budiman Sudjatmiko pada simposium itu.
     Indonesia dengan birokrasi terburuk di Asia, dengan pendidikan yang amburadul dan mencekik,yang tak menjadikan kejujuran sebagai nilai utama, diperparah dengan guru-guru yang tidak mengasah diri agar bisa memberi motivasi. Para pakar pendidikan yang pernah ikut  memberikan sumbangsih pemikiran , seperti Conny R.Semiawan dan Soediarto, bingung dengan dunia edukasi hari ini. Pendidik sudah sangat kehilangan  orientasi dan guru-guru tak lagi menjadi sumber inspirasi.
     Saya tak akan menyalahkan reformasi yang telah memakan banyak korban.Reformasi tak terelakkan karena rezim orde baru memang sudah amat busuk dan tak mungkin dibiarkan. Saya kecewa karena reformasi telah dibajak oleh pengambil keuntungan, yang menurut pembicara lain dalam simposium itu, Syafi'iMaarif, bermental lele. " Semakin keruh, semakin banyak makannya"
     Inilah "era sampah" Sebuah era yang tak bisa dihindari. Sesuatu yang kerap terjadi  selama beberapa tahun setelah rezim otoriter tumbang. Pertanyaannya, sampai kapan era sampah yang busuk ini selesai? Adakah kita cukup sabar dan punya energi menanti era yang lebih berpengharapan? Kita harus menguat-nguatkan diri.****

Ani ( Disunting dari harian"lampung post" tanggal 9 Mei 2010 Rubrik REFLEKSI Oleh DJADJAT SUDRADJAT

" HIDUP bukan untuk berbuat,melainkan untuk menyelesaikan segala sesuatu," kata Aristoteles. Tetapi, ada banyak orang " tidak berbuat" dan " tidak menyelesaikan" segala sesuatu. Bahkan, ada pula yang " tidak berbuat", tetapi lebih banyak " menghancurkan" segala sesuatu.
     Substansi ucapan Aristoteles sesungguhnya bermakna, hidup tak cukup hanya berbuat, tetapi harus punya orientasi untuk memberi solusi. Sungguh sebuah dunia ideal jika  semua orang berkhidmat sesuai ucapan sang filsuf itu. Padahal sesungguhnya , manusia memang punya dua ekstrim : potensi konstruktif dan potensi destruktif.
     Dalam idealisasi Aristoteles, di manakah tempat Sri Mulyani Idrawati ? Orang yang hanya berbuat ? Atau berbuat dan memberi solusi ? Saya berkeyakinan Ani, demikian Sri akrab disapa, ada ditempat ini : berbuat untuk memberi solusi.
     Mari kita lihat laku konkritnya. Dengan penuh keberanian Ani melakukan reformasi birokrasi di kementeriannya. Dengan penuh keberanian pula sebagai menteri keuangan, ia menolak menghentikan perdagangan saham di bursa ketika saham-saham milik grup Bakrie menurun tajam pada 2008 --ketika itu Aburizal Bakrie adalah Menko Kesra. Ani juga mencekal sejumlah ekskutif group Bakrie karena menunggak royalti batu bara dengan nilai trilyunan rupiah. Inilah sebuah solusi. Solusi agar negeri ini terbebas dari tata kelola pemerintahan yang buruk, yang pernah menenggelamkan  negeri ini.
    Perseteruan Ani dengan Bakrie memang menjadi konflik terbuka. Secara terbuka pula Ani mengatakan Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Century, yang dimotori Partai Golkar, adalah untuk membidik dirinya. Inilah dendam Aburizal Bakrie pad Ani. Dendam karena Ani tak bisa diajak kompromi. Dan, motif sakit hati itu, agaknya, kini mulai terkuak.
     Pertama, ada indikasi golkar bakal memetieskan kasus Century. Kedua, dibentuknya sekretariat bersama partai koalisi dengan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua dan Aburizal sebagai ketua pelaksana. Ini adalah pertanda yang terang benderang; dilakukan hanya beberapa hari  setelah Ani mengajukan surat pengunduran diri sebagai menteri keuangan dan Yudhoyono menyetujuinya. Ani menerima pinangan Presiden Bank Dunia  Robert Zoellick untuk menduduki posisi direktur pelaksana di lembaga keuangan dunia itu. Ia akan berkantor di Washington DC, Amerika Serikat, mulai 1 Juni  nanti.
     Ada nada sorak sorai kemenangan Golkar atas pengunduran diri Ani. Mungkin pula ada rasa puas Aburizal karana di kabinet tak ada lagi sosok yang bakal mengganggu kepentingannya. Jika ini benar, Golkar kembali kepada "khitahnya" sebagai partai lama,bukan partai reformis. Sesering apapun orang-orang Golkar mengatakan "Golkar hari ini adalah Golkar baru", hanyalah kata tanpa makna.
                                                                        ***
    JIKA saya ditanya tetap bertahan sebagai menteri atau pergi ke Bank Dunia untuk seorang Ani, saya memilihnya tetap menjadi menteri seraya menghadapi dengan gagah proses hukum kasus Century. Tetapi,  saya juga memuji pilihan Ani duduk sebagai orang kedua di lembaga keuangan dunia dan bertanggung jawab terhadap 74 negara. Atau, jangan-jangan Ani akan tetap bertahan di kabinet jika Yudhoyono memang tak melepasnya?
     Adalah manusiawi jika Ani memutuskan pergi karena jiwanya terluka. Terluka karena profesionalitasnya sebagai ekonom kelas dunia dilecehkan di negerinya sendiri. Ia pergi dengan membawa  spirit untuk  membuktikan siapa dirinya. Bukankah jiwa-jiwa kita yang inferior baru percaya jika label" luar negeri" yang berbicara ?
     Ani, apapun  rekomendasi Pansus Bank Century, adalah sosok dengan takdirnya yang "berbeda" dari umumnya kita. Ia cemerlang. Punya prinsip, berintegritas, cerdas,, bernyali tinggi, dan tegas. Kepercayaan dirinya di atas rata-rata orang Indonesia. Wajar jika di dalam negeri reputasinya hampir tak tertandingi. Tetapi justru itu, sejak ia masuk kabinet Yudhoyono, terus dicurigai.
     Latar belakangnya yang pernah menjabat Direktur Eksekutif IMF, mewakili 12 negara Asia Tenggara, menjadi prasangka yang terus diembuskan  sebagai pejabat yang akan membawa kepentingan  lembaga keuangan dunia dengan paham neolib itu. Yakni meniadakan peran negara untuk macam-macam urusan. Neolib pun menjadi cap yang tak pernah berhenti dialamatkan kepada doktor ekonomi lulusan University of Illinois-Champaign, Amerika itu.
     Telah berkali-kali Ani menjelaskan ia seorang nasionalis. Seorang  yang mengabdi untuk negerinya. Seorang putri pendidik yang paham apa makna spirit kebangsaan. "Ketika saya di IMF justru kesempatan menjelaskan  posisi Indonesia. Tapi, tanpa bekal memadai, ini tak mungkin didengar," kata Ani dalam sebuah forum di Jakarta pada 2006. Sebuah penjelasan untuk ke sekian kalinya.
     Tetapi, prasangka telah menjadi senjata yang terpelihara dan siap dibidikkan  kapan saja sesuai "kebutuhan". Dan, prasangka yang dikelola sebagai  senjata politik kini  makin tercium jejaknya. Hak Angket Century, jika benar bakal dipetieskan rekomendasinya, sungguh sebuah dusta dengan bungkus politik yang teragenda. Artinya, Sri Mulyani dan Boediono memang target politik pihak-pihak yang tak suka.
     Ani, kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 26 Agustus 1962, harus kita akui ini memang menteri keuangan "plus". Plus bukan hanya punya reputasi internasional, melainkan dalam kabinet Yudhoyono, ia menteri  yang bisa bilang "tidak" kepada Presiden. Ia melawan Aburizal, bukan karena ia merasa "jagoan", melainkan karena ia menilai Aburizal tak mendukung tekad menciptakan pemerintahan yang bersih.
     Ani, tak ada orang besar dengan ujian-ujian kecil. Hujatan para politisi di Senayan, mungkin hanya ujian kecil. Saya percaya, Anda bisa "berbuat" dan "memberi solusi" bagi bangsanay, di mana pun. Sebab, semangat Tanah Air sesungguhnya tak harus dengan kaki berjejak di bumi sendiri.***